• Asmaul Husna

  • Meta

  • Prof. Dr. Joko Sutrisno, M.T.

    Image and video hosting by TinyPic Please sharing to me about mathematic....
  • Kumpulan Arsip

  • Pengunjung

    free counters
  • My Blog Polling

  • Times

  • My Image

    Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic

Kurikulum terlalu padat, guru tak mampu kembangkan potensi

Blendu, S.Pd.Sumber : Harian Terbit

TANGSEL – Pemerintah akan mengurangi jam mengajar dari 42 jam menjadi 32 jam seminggu. Kebijakan ini diambil karena selama ini materi pembelajaran siswa dinilai terlalu berat sehingga tidak ada ruang bagi guru berkreasi. Begitu juga siswa tidak memiliki waktu untuk mengembangkan diri.

“Karena itu, saya setuju dengan rencana kebijakan pemerintah tersebut. Sebab, kalau saya perhatikan memang selama ini siswa tampaknya terlalu dijejali dengan materi pembelajaran yang begitu padat. Bahkan, guru pun banyak yang mengeluh karena selain dirinya dituntut untuk menyelesaikan kurikulum, tapi juga tidak ada waktu untuk memberi ruang kepada siswanya berkreasi,” jelas Rektor Universitas Terbuka, Prof. Ir. Tian Belawati, Med, PhD saat seminar wisuda UT periode IV tahap II 2010, Senin (29/11).

Menurut dia, kalau kondisinya seperti sekarang terus bagaimana guru mampu memberikan wawasan karakter kepada siswanya yang sebenarnya hal ini sangat penting dalam proses belajar mengajar. Dengan begitu, siswa pun tidak bisa mengembangkan jiwa dan potensi dirinya.

Tokoh kreatif seperti Dick Doang, Heri Hendrayana Harris (Goa A Gong) dengan Taman Bacaan Masyarakat dan, Mohammad Zaini Alif, dengan pendekatan permainan anak tradisional, yang hadir sebagai pembicara sepakat kalau para guru bagaimana agar belajar siswa sangat menyenangkan, sehingga inspirasi para guru bisa berpikir dalam menerapkan kurikulum itu para guru tidak kaku, integrasikan ide-ide kreatif kepada para siswa.

“Jadi intinya ketiga pembicara itu adalah menjadikan belajar sangat menyenangkan sehingga anak-anak senang untuk belajar, tumbuh kingintahuan intelektual dan menjadikan generasi yang kreatif dan inovatif,” ujarnya.

Menurut Tian, saat ini banyak yang mengeluhkan mulai dari guru, kepala sekolah pengamat pendidikan, mengenai beban belajar para siswa yang terlalu berat, sehingga guru-guru tidak punya ruang dan waktu untuk berimprovisasi. (mulya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: