• Asmaul Husna

  • Meta

  • Prof. Dr. Joko Sutrisno, M.T.

    Image and video hosting by TinyPic Please sharing to me about mathematic....
  • Kumpulan Arsip

  • Pengunjung

    free counters
  • My Blog Polling

  • Times

  • My Image

    Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic

Lupakan Marah, Jauhi Ghibah…..

Tak ada manusia yang sempurna selain Muhammad Rasulullah SAW. Setiap kita mungkin pernah merasa dikecewakan, didzolimi, dikhianati, disakiti dan diabaikan hak-haknya. Seringkali jika tak ada iman di dada kita mudah tersulut, sehingga emosi berkecambuk dan timbullah marah sebagai efek dari sebab-sebab kurang terkendalinya emosi.

Kondisi yang demikian membuat hati menjadi pengap, panas, sesak meletup-letup dan akhirnya tergambarlah dalam raut wajah kita. Garis wajah menjadi berubah. Yang tadinya tenang, sumringah, cerah dan indah menjadi keruh, pucat, merah padam dan tak sedap dipandang.

Marah, hanya akan membuat hati makin keruh, mengaburkan kabaikan, dan menambah masalah baru.

Sebagai contoh, ketika kita merasa dikecewakan pasangan hidup, dikurangi hak-hak kita, diabaikannya perasaan kita begitu saja tanpa mau peduli bagaimana rasa hati kita saat itu. Mungkin sebagian kita akan merasa sedih yang berujung marah. Kemarahan yang terpendam lama kelamaan akan mengendap dan bisa meledak kapan saja jika kondisi seperti itu terulang kembali.

Raut muka menjadi tak bercahaya, simpati pada pasangan menjadi merosot, kepercayaan pada pasangan menyusut, cinta menjadi bias antara kepatuhan dan keterpaksaan. Namun sadarkah kita bahwa hal demikian hanya akan menyakiti diri sendiri. Karena ketika kita marah, fisik dan ruhani kita sendirilah yang terfosir memikirkan kekurangan-kekurangan pasangan, padahal kebaikannya teramat jauh lebih tinggi daripada secuil kelalaiannya.

Rasulullah SAW mengingatkan kita agar senantiasa menjauhi sifat tercela ini dengan sabdanya,

Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.( HR. Bukhari dan Muslim)
Barangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau. (HR. Ahmad dengan sanad hasan)
Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu, bahwa seseorang berkata kepada Nabi Shalallahu alaihi wasallam : berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda jangan menjadi seorang pemarah. Kemudian diulang-ulang beberapa kali. Dan beliau bersabda janganlah menjadi orang pemarah. (HR. Bukhari)

Subhanalloh, begitu hebatnya hadiah bagi seorang yang mau dan mampu mengendalikan amarahnya. Memang tidak mudah, namun segala sesuatu bisa dipelajari. Hal yang dipelajari dan kemudian diaplikasikan secara terus menerus, berulang-ulang akan menjadi kebiasaan dan kebiasaan lambat laun akan menjadi karakter.

Langkah-langkah mengendalikan amarah telah diajarkan oleh teladan kita Rasulullah SAW.

1. Membaca Ta’awwudz. Rasulullah bersabda “Ada kalimat kalau diucapkan niscaya akan hilang kemarahan seseorang, yaitu “A’uudzu billah mina-syaithaani-r-rajiim” “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk” (H.R. Bukhari Muslim).

2. Berwudlu. Rasulullah bersabda “Kemarahan itu dari syetan, sedangkan syetan tercipta dari api, api hanya bisa padam dengan air, maka kalau kalian marah berwudlulah” (H.R. Abud Dawud).

3. Duduk. Dalam sebuah hadist dikatakan”Kalau kalian marah maka duduklah, kalau tidak hilang juga maka bertiduranlah” (H.R. Abu Dawud).

4. Diam. Dalam sebuah hadist dikatakan “Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit masalah, kalau kalian marah maka diamlah” (H.R. Ahmad).

5. Bersujud, artinya shalat sunnah mininal dua rakaat. Dalam sebuah hadist dikatakan “Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di
lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud).” (H.R. Tirmidzi)

Semoga dengan langkah-langkah ajaran Rasulullah SAW tersebut, kita mampu menjadi pribadi yang ikhlas dengan ketentuan Allah SWT. Karena apapun yang terjadi, yang kita perbuat, benar atau salah, baik atau tidak, senang atau susah, semua itu adalah ilmu yang sangat berharga.

Kemudian jauhkanlah diri kita dengan sifat-sifat pengadu kepada selain Dia. Pengadu yang senang menceritakan aib-aib saudara, sahabat, tetangga, dan saudara-saudara lain yang berkaitan dengan diri kita. Menceritakan hal-hal yang tidak kita senangi dari sifat dan perilaku orang lain meskipun itu benar adalah ghibah, sedangkan jika salah maka kita jatuh dalam arena fitnah. Naudzubillah..

Padahal Allah SWT telah mengingatkan kita dalam kalamNya yang suci.

Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yg sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Q.S Al Hujurat : 12)

Semoga kita senantiasa terhindar dari sifat-sifat madzmumah, didekatkan pada sifat mahmudah, dan digolongkan dalam rangkaian jiwa yang indah, bertabur amal saleh, berjalan dalam naungan ridhoNya. Amiin Ya Robb, Amiin Ya Robbal ‘Alamiin

4 Tanggapan

  1. Pak Joko, saya Wiji Hastutik alumni angkatan 2001 IPA 1.Smoga bapak dan keluarga selalu sehat dan dilindungi Allah SWT. amin

    • Amin…terima kasih mbak Wiji, ini mbak Wiji yang cuantik n lembut itu yaaa. Dulu agak pendiam tho mbak? Kalau wajah insyaAllah tak kan lupa, tapi nama ini juga masih jelas ku ingat. Ok, sekarang dimana dirimu?

      • Alhamdulillah bapak masih ingat saya, saya sekarang tinggal di ciledug ngajar di SD n lagi menyelesaikan skripsi, maklum kuliah’y telat.Pak sy titip salam buat bpk Harun.Gmn beliau skrg kabar’y? Terima kasih

      • telat tdk mngapa mbak Wiji, daripada tdk sm sekali. Terus aja melaju siapa tahu nanti menjadi Profesor…..ayo kita terus berpaju

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s