• Asmaul Husna

  • Meta

  • Prof. Dr. Joko Sutrisno, M.T.

    Image and video hosting by TinyPic Please sharing to me about mathematic....
  • Kumpulan Arsip

  • Pengunjung

    free counters
  • My Blog Polling

  • Times

  • My Image

    Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic

Mudahkanlah…dan jangan mempersulit..!

Dalam urusan yang terkait dengan pelayanan publik kadang terdengar ungkapan “kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah”. Sikap suka mempersulit seperti ini merupakan perilaku tercela yang akibatnya sungguh bisa sangat tak terduga. Bukan saja waktu, tenaga, dan materi yang hilang, bahkan nyawa pun bisa melayang. Sikap suka mempersulit pada dasarnya merupakan penyimpangan yang amat nyata dari prinsip-prinsip pelayanan prima (good governance) yang mensyaratkan kemudahan, kecepatan, keramahan, dan efisiensi.

Pelakunya umumnya adalah orang yang masih bermental feodal yang memposisikan dirinya di atas orang yang dilayaninya dengan beragam motif atau tujuan. Mempersulit urusan sangat dikecam dalam ajaran Islam, termasuk untuk hal yang bernilai ibadah atau kebaikan. Rasulullah SAW bahkan menegur Mu’adz karena membaca surat al-Quran terlalu panjang ketika menjadi imam sehingga memberatkan makmumnya (HR. Bukhari-Muslim). Beliau juga tidak mau mewajibkan bersiwak (menggosok gigi) sebelum shalat karena khawatir hal tersebut kelak akan menyulitkan umatnya (HR. Muttafaq Alaih).

Islam sangat menganjurkan kita agar memudahkan semua urusan dan bukan mempersulitnya. Rasulullah SAW bersabda, yassiru wala tu’assiru wabasysyiru wala tunafiru, “mudahkanlah dan janganlah engkau persulit orang lain dan berilah kabar gembira pada mereka, jangan membuat mereka menjadi lari”.

Diriwayatkan ada seorang sahabat yang mengalami sakit dan berhadas besar. Sahabat tersebut meminta pendapat sahabat-sahabat lain apakah perlu mandi janabah atau tidak. Kebanyakan sahabat menganjurkannya untuk mandi janabah. Namun setelah mandi, sakitnya justru bertambah dan akhirnya sahabat itu meninggal dunia. Rasulullah sangat murka mendengar hal tersebut karena hadas besar sebenarnya dapat disucikan dengan tayammum jika terdapat alasan yang dibenarkan oleh syara’.

Kemudahan adalah salah satu prinsip utama ajaran Islam. Orang yang sedang bepergian (musafir) diberikan kemudahan dalam melaksanakan shalat dengan cara jamak dan qashar. Demikian pula orang yang berpuasa yang diberi keringanan untuk menggantinya di hari lain di luar Ramadhan (QS Al-Baqarah: 184).

Sikap memudahkan urusan akan melahirkan keberkahan dan jaminan pertolongan karena Allah selalu menolong hamba-Nya selama si hamba tersebut menolong saudaranya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang meringankan penderitaan seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan meringankan penderitaan (kesulitan)nya kelak di hari Kiamat dan barangsiapa yang memudahkan urusan orang yang mengalami kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat (HR. Muslim).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: