• Asmaul Husna

  • Meta

  • Prof. Dr. Joko Sutrisno, M.T.

    Image and video hosting by TinyPic Please sharing to me about mathematic....
  • Kumpulan Arsip

  • Pengunjung

    free counters
  • My Blog Polling

  • Times

  • My Image

    Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic

Matematika Dalam Menanamkan Nilai (Sikap) pada Anak

Selama ini masih banyak orang yang menganggap bahwa matematika tidaklah lebih dari sekedar berhitung dan bermain dengan rumus dan angka-angka yang bikin pusing siswa. Pendidikan formal di sekolah yang dimulai dari jenjang TK, SD, SMP sampai SMA memiliki kurikulum yang memuat pelajaran dan materi, dan salah satunya adalah Matematika. Sebagian besar siswa menganggap matematika sebagai pelajaran yang sukar dan menakutkan, sehingga menjadi momok bagi siswa. Hal tersebut sebenarnya bertolak belakang dengan keadaan sebenarnya. Matematika dijadikan tolok ukur kelulusan siswa (SMP dan SMA) melalui diujikannya matematika dalam ujian nasional dan diajarkan di semua jenjang pendidikan dan jurusan.

Permasalahan belum diterimanya matematika dengan sukarela atau senang hati oleh siswa menjadi pekerjaan atau tugas khusus bagi guru sebagai pendidik khususnya guru matematika.Hal ini dapat diminimalisisr dengan memberikan wawasan dan arahan serta pendekatah yang tepat kepada siswa. Khususnya tentang penggunaan atau aplikasi matematika dalam bidang ilmu lain dalam kehidupan sehari-hari. Secara sengaja atau tidak sengaja maupun langsung atau tidak langsung, masyarakat atau siswa menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Soal-soal matematika yang ditulis dalam beberapa buku paket matematika sekolah tidak hanya berupa bilangan (hitung-hitungan) langsung tapi juga banyak yang berupa soal cerita. Tingkatan soal juga tidak hanya menuntut cara berpikir yang rutin tetapi banyak juga soal-soal cerita yang menuntut cara berpikir yang tidak rutin. Saat ini mulai banyak metode pembelajaran yang diterapkan di sekolah tidak hanya sekedar ceramah sehingga pengetahuan matematika tidak berpusat pada guru saja tetapi siswa juga dituntut untuk membangun suatu konsep. Soal matematika yang disajikan dalam soal cerita (tidak hanya bilangan) dan metode pembelajarannya dapat memberikan makna tertentu.

Pendidikan matematika mengandung nilai yang antara lain dibawa oleh ciri-ciri atau karakteristik dari matematika itu sendiri (Soedjadi, 2007:75).

Tulisan ini ingin mengkaitkan matematika dengan pendidikan nilai (sikap) pada anak. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah agar diperoleh pemahaman bahwa matematika juga mempunyai peran penting dalam pendidikan nilai pada anak, khususnya matematika sekolah dasar, tidak sekedar hitung-hitungan saja.

PENDIDIKAN NILAI (SIKAP) ANAK

Menurut John Dewey, pendidikan diartikan sebagai proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia. Anak merupakan pribadi sosial yang memerlukan relasi dan komunikasi dengan orang lain. Anak ingin dicintai, ingin diakui dan dihargai. Berkeinginan pula untuk diperhitungkan dan mendapatkan tempat dalam kelompoknya. (Kartono, 1996). Periode/masa pada anak terbagi dalam beberapa interval umur tertentu. Salah satu masa tersebut adalah masa sekolah dasar yang berusia 6-12 tahun. Pada masa ini emosionalitas anak jadi makin berkurang, sedang unsur intelek dan akal budi (rasio, pikir) jadi semakin menonjol. Minat yang obyektif terhadap dunia sekitar menjadi semakin besar. Perasaan intelektual anak pada masa ini sangat besar. Teka teki silang, soal matematika dan perhitungan yang pelik-pelik (terutama kalau hasilnya berupa angka-angka yang utuh) merupakan daya tarik besar untuk dipecahkan oleh anak; baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. (Kartono, 1996 )

Semua ini membangunkan kemauan belajar dan menstimulir ketekunan usaha dan aktivitas anak. Lanjut Kartono, disiplin sekolah dan kewibawaan para guru memberikan kegairahan pada situasi bekerja dan usaha belajar anak. Pada umumnya, pada masa ini anak senang pergi ke sekolah. Ia merasa suka dan “betah kerasan” tinggal di sekolah. Tidak jarang anak merasa terpesona dan terikat hatinya pada gurunya.

Nilai kita rasakan dalam diri masing-masing sebagai daya pendorong atau prinsip-prinsip, yang menjadi pedoman dalam hidup. Nilai yang menjadi sesuatu yang abstrak dapat dilihat dari tiga realitas : pola tingkah, pola berpikir dan sikap-sikap.(Kaswadi, 1993). Nilai adalah daya pendorong dalam hidup yang memberi makna dan pengabsahan pada tindakan seseorang.

Pendidikan nilai ialah penanaman dan pengembangan nilai-nilai dalam diri seseorang. Pendidikan nilai tidak harus merupakan satu program atau pelajaran khusus, seperti pelajaran matematika, tetapi lebih merupakan suatu dimensi dari seluruh usaha pendidikan. Pendidikan tidak hanya mau mengembangkan ilmu, ketrampilan, teknologi, tetapi juga ingin mengembangkan aspek-aspek lainnya : kepribadian, etika moral dan lain-lain yang semuanya dapat disebut pendidikan nilai.
KONTRIBUSI MATEMATIKA BAGI PENDIDIKAN NILAI (SIKAP) ANAK

Orang tua dapat membantu anak-anaknya mengembangkan diri mereka sendiri suatu nilai yang paling dasar, yang bisa diberikan dalam membantu anak menyelesaikan soal matematika, seperti beberapa soal matematika berikut ini yang dikutip dari buku paket Matematika Sekolah Dasar kelas 1, 2 dan 3 (Handoko,2006) :

1. Pak Fernandes mempunyai 5 dus mi. Ada 5 tetangganya yang fakir miskin kemudian mi tersebut seluruhnya dibagikan. Coba berapa sisa mi yang dimiliki pak Fernandes? (Handoko (1), 2006 : 49)

2. Ratna dan Linda akan menyumbangkan majalah bekas ke perpustakaan sekolah. Majalah milik Ratna sebanyak 65 dan majalah Linda sebanyak 75. Berapa jumlah majalah yang akan disumbangkan Ratna dan Linda? (Handoko (2), 2006 : 51)

3. Untuk membantu korban bencana alam, siswa kelas 1 dan kelas 2 mengumpulkan mi. Mi yang terkumpul dari kelas 1 sebanyak 125, dari kelas 2 sebanyak 80 dan yang rusak sebanyak 9. Berapa mi yang tidak rusak? (Handoko (2), 2006 : 67)

4. Sebanyak 50 baju akan dibagikan kepada 10 anak yatim. Jika tiap anak mendapat bagian yang sama, berapa banyak baju yang didapat tiap anak? (Handoko (3), 2006 : 34)

Dari soal di atas, orang tua dapat menerangkan nilai-nilai yang disampaikan dalam soal tersebut di samping membantu anak menyelesaikannya. Nilai yang bisa ditangkap dari soal tersebut adalah nilai ‘suka memberi’ dan berbagi baik kepada teman, saudara, tetangga maupun fakir miskin dan anak yatim.

Beberapa soal matematika yang lain tentang pengukuran waktu seperti dikutip dalam buku kelas 2 SD (Supardjo,2006 : 82), buku kelas 4 SD (Handoko (4), 2006) dan buku kelas 5 SD (Handoko (5),2006) sebagai berikut :

1. Sekolah masuk pukul berapa? Pukul 9 pagi kamu di mana?

Apakah kamu berada di sekolah pukul 9 pagi ?

2. Pukul 5 pagi, apakah kamu sudah bangun? Pukul berapa kamu mulai tidur ?

3. Pukul 6 pagi, apakah kamu sudah makan pagi ?

4. Cobalah mencatat lamanya aktivitas penting yang kamu lakukan dalam satu hari, kemudian jumlahkan berapa lama waktu yang dibutuhkan. (Handoko (5),2006:65).

Soal di atas, yang dalam buku paket Matematika SD tersebut juga menyertakan gambar jam, dapat memunculkan nilai kedisiplinan mengatur waktu dan tanggung jawab pada diri sendiri.

Juga terdapat soal tentang bagaimana anak dapat mengatur uang dengan baik, bertanggung jawab terhadap uang yang diberikan orang tua dan menabung agar dapat membeli barang yang diinginkan.

Menurut Suwarsono (Susilo, 1996:13) matematika juga mengandung nilai-nilai (value) yang sangat berguna untuk pembentukan sikap dan kepribadian yang lengkap (utuh). Pembentukan sikap disiplin, sikap teliti, sikap kritis, sikap sabar, sikap hati-hati dan sebagainya, bisa dikembangkan melalui matematika. Di masa yang akan datang, sikap semacam ini semakin dibutuhkan karena semakin banyaknya masalah yang melingkupi manusia, dan semakin banyaknya orang yang terkena oleh masalah-masalah tersebut.

Tujuan pembelajaran matematika sekolah (khususnya SD) adalah agar siswa memiliki kemampuan yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan matematika, memiliki pengetahuan matematika sebagai bekal untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, memiliki ketrampilan matematika untuk dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, memiliki pandangan yang cukup luas, memiliki sikap logis, kritis, cermat dan disiplin serta menghargai kegunaan matematika (Karso, 2006).

Seorang pakar pendidikan matematika, Soedjadi (dalam Zulkardi,2000) mengatakan pembelajaran matematika tidak hanya diarahkan agar siswa dapat memecahkan soal dan menerapkan matematika tetapi juga dapat menumbuhkan kemampuan-kemampuan sebagai berikut :

1. kemampuan menerapkan dan menggunakan matematika dalam bidang lain

2. kemampuan berpikir analisis dan sintesis

3. kemampuan membedakan yang benar dan salah dengan alasan logis

4. kemampuan kerja keras, konsentrasi dan mandiri

5. kemampuan memecahkan masalah

Secara tidak langsung, kemampuan tersebut memberikan kontribusi bagi pendidikan nilai anak seperti dapat membedakan mana yang salah dan benar, kerja keras, mandiri dan sebagainya.

PENUTUP

Meskipun matematika sering dianggap sebagai salah satu mata pelajaran sulit bagi anak maupun orang tua, tetapi dari soal-soal matematika khususnya soal cerita, orang tua dapat membantu menyampaikan nilai yang muncul dari soal tersebut di samping membantu anak menyelesaikan soal tersebut. Yaitu nilai membantu teman, saudara tetangga, mengatur waktu, mengatur uang dan kreatif.

*) Daftar Pusaka dari berbagai sumber buku dan akses internet.

Penulis Gregoria Ariyanti, S.Pd., M.Si.

Dosen Prodi Pendidikan Matematika Universitas Katolik Widya Mandala Madiun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: